Aku mengambil
penaku dan membawa teman cerita kecil yang selalu aku sandingkan dengan penaku.
Aku mengganti pakaian lalu bergegas menuju danau belakang untuk menuangkan
seluruh lara didalam benakku. Yah, bukan karena orang lain aku kerap terluka. Tapi
karena perasaan cinta yang kerap aku rasakan itu salah.
“ Aku ini kesepian, seperti tak layak
dicintai, lantas aku menemukan seseorang yang membuatku merasa nyaman, hingga
aku tak sadar aku terlanjur merasakan perasaaan yang terlalu berlebih. Aku tidak
menyalahkan siapapun, menyalahkan takdir bahkan menyalahkan dia. Aku lebih
tepatnya harus berterimakasih kepadanya, karena aku masih bisa merasa sangat
bahagia. Masih bisa merasa sangat bersemangat . Aku tak mengerti apa yang ada
di dalam fikiranku. Aku selalu hendak menemuinya tersenyum. Aku tau, dan tidak
sama sekali berharap lebih menjadikannya kekasihku. Kebersamaan kita selama ini
sudah sangat membuat aku merasa sangat senang, sangat bahagia , bahkan mabuk
rindu. Terlalu banyak hal sulit yang harus dia hadapi di harinya. Entah karena
masalah hatinya , atau hanya sekedar urusan pekerjaannya . aku hanya ingin
menjadi penghiburnya. Membuatnya tertawa, membuatnya tersenyum, membuatnya
terbahak karena leluconku”
Saat ini, aku
hanya ingin menulis itu dan melanjutkan menikmati sayup-sayup angin yang
menerpa mukaku . sambil terus mengingat jelas senyummu dalam bayang-bayang imajinasiku.
0 komentar :
Posting Komentar