Aku masih tersenyum kecil, sambil terus menatap layar handphoneku. "Lebih dari dua musim yang lalu aku menemui sosoknya, entah kenapa rasanya bgtu ingin mengenal dia. Sesekali dia datang ke tempat kerja ku dulu. Tapi tak pernah ada jabat tangan sesingkat apapun antara kita. Aku bahkan sudah mengubur anganku untuk mengenalnya. " Pagi ini mataku terbebelalak mendapati siapa yang barusan saja mengisi daftar invitation di blackberry messenger ku. Aku usap dan ku kucek lagi mataku. Dan tak lupa aku pergi menuju kamar mandi lantas mencuci mukaku. Kulihat beberapa kali namanya sambil ku ingat-ingat sosok dua musim lalu itu.
"fabian? apa benar dia" sesekali aku mengucek kembali mataku.
Tak ada yang berubah dari layar handphoneku. "Apa benar fabian dia?" Aku tak pikir panjang menerima undangan pertemanan itu. Namun aku masih termengu, mencoba menerka-nerka takdir tuhan ini. Aku amati display picture bbmnya . Tapi tak juga aku temui jawaban. Daripada hatiku terus menggelitik mencari tau siapa dia sebenarnya, tanpa ragu aku kirim saja dia pesan.
"Ini fabian, anak ABC grup?" Aku langsungkan saja pertanyaanku, karna seingatku dia tergabung dalam satu komunitas di kotaku.
1 menit,2 menit, 3 menit, 4 menit,10 menit. Arghhhhhhhh masih saja D. Aku menyerah. Tanpa pikir panjang aku end chat saja pesanku. Toh dia takkan membalas.
Dret.....drreeetttr.......drrrrreeeerrrrtt...
Handphoneku bergetar dan...........
"Invite ya pin soijem 545555 baik cantik pintar ga sombong" blablbalablablablablaaaaaa
BC ini membuatku semakin gilak!
aku fikir bal...... .......... ......
"Iya" oh my god oh my no oh my yes. Fabian balas chatku, apa yang harus aku lakukan apa yang harus aku lakukan agar percakapan ini berlanjut....... ahhhhhhhh inii dia benar dia yang aku tunggu jabat tangannya.
Aku asik sendiri berteriak dalam kamarku. Lalalalalaka yeyeyeyeyeyee. Rasanya seperti membalas dengan kata "love you" saja. Padahal kan hanya "iya" tapi aku senangnya bukan main. Ah aku memulainya dengan percakapan singkat dan mulai membahas tentang dulu,apa dia mengingatku atau tidak. Ternyata dia benar tak ingat. Aku sudah duga itu.
Sepertinya aku cukup berhasil membuat percakapnnya menjadi asik. Aku jadi tak jarang bbman dengan dia. Sampai pada hari itu. Dia menemuiku di salah satu tempat kita bertemu . Rasanya seperti mimpi, rasanya seperti tuhan amat sangat menyayangiku, walau aku tak pada hari itu juga dapat mengenalnya, walau aku harus menunggu ini hingga 2 musim berganti, dan sudah patah harap mengenalnya, namun hari ini, aku bisa mendengarnya menyebut 'hai' pada ku, menjabat tanganku, mengetahui namaku dan menyebutku 'teman'.
0 komentar :
Posting Komentar